Karena Kita Bukan Sebangsa Amoeba


Amoeba itu adalah salah satu makhluk hidup yang berkembang biak dengan cara membelah diri. That’s it, enough. Sepenggal pengetahuan alam yang masih tersisa di otakku. Akhir-akhir ini kalo di kampus sering banget denger pernyataan, “andai aku bisa membelah diri jadi banyak, dan sehari lebih dari 24 jam”.

Minggu-minggu terakhir semester memang waktunya untuk menguji mental, kesabaran, keuletan dan sebagainya. Design training, PLBA, problem sosial, modifikasi perilaku *khusus buat aku tambah SKI dan Gender*. Di saat beberapa mata kuliah, termasuk praktikum, sudah selesai beberapa mata kuliah di atas justru membuat wajah-wajah yang biasanya penuh dengan keceriaan berubah menjadi bĂȘte saat ketemu satu sama lain, karena bawaannya keinget tugas mulu. Yayayaya, bayangkan aja saat selesai kuliah inventory minggu lalu, tanpa dikomando setiap orang di kelas panik teriak-teriak manggil anggota kelompok dan saling berebutan anggota untuk cepat pindah ke kelompok mata kuliah yang lain. Aku sendiri mengalami itu, setelah kumpul modpri langsung balik kanan ngumpul design training kemudian agak serong ke kanan untuk ngomongin tugas PLBA dengan kelompok yang berbeda lagi. Tak cukup sampai disitu kawan, beberapa saat kemudian bingung nyari denah tempat yang akan aku dan teman-teman kunjungi buat tugas ProbSos. Belum lagi ditambah tugas individual pre-eliminary research yang cukup-cukup menguras tenaga, pikiran, dan mental karena harus bikin proposal skripsi *uhuuuuk*. Padahal deadline tugas tinggal semingguan lagi.

Kalau sudah situasi begini, yang banyak kejadian adalah jadi sering gak bisa kontrol emosi, lupa jaga kesehatan, bahkan mungkin bolos kelas buat ngerjain tugas mata kuliah yang lain. Sebenarnya balik lagi ke orangnya sih, asal rajin dan gak gampang nunda pekerjaan pasti juga gak bakalan kelimpungan ngerjain tugas yang seabreg ini, lha kalo orangnya suka prokrastinasi kaya aku gini?? yang sukanya nunda-nunda sampe mepet waktu dengan dalih ide bakal muncul disaat-saat kritis. Mari ucapkan selamat datang bagi acara radio diri hari untuk nemenin begadang. Nah lhoo. Aaarrrgghhh, andai aku bisa membelah diri jadi banyak.

NB.
*kebiasaan ini jangan sampai ditiru, kalau tidak berpengalaman bakal bahaya karena akan menimbulkan efek samping yang tidak terduga*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Incandescent (Part. 2 - End)


Setelah melalui serangkaian proses yang panjang dan melelahkan sampai nggak tidur semalaman, adu argument dan saling lempar candaan, serta setelah menghabiskan beberapa bungkus nasi goreng beberapa saat sebelum adzan subuh berkumandang, akhirnya karya ini selesai juga.


Sebuah cerita tentang seorang tuna rungu dan tuna wicara , selanjutnya panggil saja C, yang berjuang untuk melawan keterbatasannya, mencoba untuk menunjukkan eksistensinya bahwa dia berhak dan mampu untuk menempuh pendidikan formal meski harus bergabung dengan orang-orang yang normal. Mencoba menjadi dirinya sendiri dengan cara yang mungkin orang lain menganggapnya sebagai sebuah hal yang sangat tabu. 

Meski pada akhirnya kami harus jadi juara dua dan hanya membawa pulang tiket konser Rio Febrian dan Letto, tapi tetap saja ada yang tertinggal dan membekas. Ya, beberapa kali kami harus berinteraksi langsung dengan orang-orang berkebutuhan khusus di Pusat Studi Layanan DIfabel yang ada dikampus. Mereka dengan caranya sendiri mampu mengajariku banyak hal, salah satunya adalah betapa aku menjadi sangat takjub ketika C berkomunikasi dengan seorang tuna netra, bisa dibayangkan? C (selalu sepaket dengan menderita tuna wicara) membuat bahasa isyarat dari tangan yang ditempelkan di telapak tangan si tuna netra, dan kemudian sang tuna netra menebak abjad apa yang ada di telapak tangannya dengan meraba bentuk jari C. Saat mengambil gambar ini, rasanya badanku semakin menghangat, entah apa yang mengaliri tubuhku saat itu. Yang jelas, inilah bentuk keajaiban lain yang Dia ciptakan. 

Setelah lomba itu selesai, ada satu momen yang benar-benar membuatku geram. Ya, saat musim UTS datang, tiba-tba seorang teman memintaku untuk menggantikannya menemani C untuk ujian lisan. Pada awalnya aku enggan, bukan apa-apa aku hanya belum begitu lancar mengerti dan menggunakan bahasa isyarat. Dua pilihan yang sangat sulit karena keduanya punya norma masing-masing. Tapi aku tak punya pilihan lain, membantunya dengan apa adanya atau tidak sama sekali. Saat menunggu giliran dia masuk (ternyata no. urut presensi dia di akhir sodara”), dia menceritakan banyak hal, mulai dari keluarganya, kegiatan di beberapa perkumpulan yang dia ikuti dan salah satunya adalah perkumpulan yang mungkin akan menjadi sebuah kontroversi kalau aku sebut disini, so just make it a secret

Dengan kemampuan berbahasa isyaratku yang payah, aku pun masuk ke ruang kelasnya bersama kelima temannya yang juga ujian. Rasanya aku sangat gugup dan tegang, apalagi begitu mendengar suara sang dosen penguji yang sangat keras, tegas dan cenderung kaku, aku sempat mengajak seorang teman yang lebih menguasai materi yang diujikan kali ini (Sistem Ekonomi teman”, something that I really don’t understand about it). Ternyata sang dosen penguji hanya memperbolehkan satu pendamping dan sang temanku pun meyakinkanku kalau aku bisa disaat aku menganggap bahwa salah mengerti sedikit aku akan membawa petaka bagi C. Apapun itu aku hanya berniat untuk membantunya untuk ujian, hanya itu, dan aku sudah berusaha semampuku meski harus curi-curi strategi dalam menerjemahkan bahasa isyarat pada sang dosen penguji. Ujian pun selesai dan aku hanya bisa berdoa bahwa apa yang aku lakukan tadi itu benar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS