I Trapped .. !!


Well, sebagai anak psikologi harusnya aku bisa membaca situasi. I did, but there’s something missing from my vision. Sedikit terkecoh lagi saat menganggap semuanya sudah selesai. Here we go, enjoy the picture..!!

 







 Dan Mas Zak cuma ketawa ngeliat aku dikerjain.. ppfftt.. :s
Well, tons of thank, guys.. :3

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

First Step – See, Hear, Feel and Understand

Salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil saat ini adalah Kuliah Kerja Nyata a.k.a KKN. Sejujurnya saja aku belum ada bayangan apapun tentang mata kuliah ini, harus ngapain apa yang harus disiapkan, gimana nanti pelaksanaannya dan sebagainya. Jadi saat memutuskan untuk ngambil semester khusus ini pikirannku cuma biar libur lebaran gak nganggur di rumah dan biar kuliahku cepet selesai. 

Oke, pada akhirnya aku ditempatkan di kelompok yang sangat majemuk. Sepuluh orang yang ada di kelompok ini berasal dari program studi yang berbeda-beda, tentu saja tak hanya itu kemajemukannya, mereka juga pasti mempunyai karakter dan sifat yang berbeda-beda. Dengan waktu yang sangat singkat, harus dituntut mengenal dan mencoba memahami perbedaan itu. Ya, berbekal nilai mutlak kuliah Observasi dan Wawancara, aplikasi ilmu itupun dimulai. Selama beberapa hari, aku mengambil langkah aman dengan mencoba untuk mengamati dan mendengar dulu. Setidaknya sejauh ini, aku merasa nyaman bekerja sama dengan kelompok ini.

Begitu pula saat sudah berada di lokasi. Lokasi tempat KKN ini terletak di sebuah pedukuhan kecil dengan kontur tanah yang bergelombang, jalan tanah setapak yang naik turun, dan sedikit berada di dataran tinggi, jarak rumah satu dan rumah yang lain cukup jauh. Suara lolongan anjing dan bau limbah babi menjadi suatu hal yang harus mulai dibiasakan. Penerangan malam hari yang tidak cukup memadai tertolong dengan rumah Host Fam yang cukup layak dan terjamin fasilitasnya meski harus berjalan naik.

Sedikit yang baru bisa aku simpulkan adalah masyarakat di Dukuh ini majemuk, terdiri dari berbagai aliran kepercayaan, penduduk yang sering terlihat di daerah ini adalah golongan lansia dan anak-anak. Banyak kejadian di daerah ini yang membuat penduduknya pindah keyakinan dan sampai sekarang belum yakin dengan agama barunya meski sudah beberapa tahun pindah agama. Misalnya saja, salah seorang warga mengaku muallaf, saat puasa pertama kemarin dia ikut sahur, tapi saat diajak sholat dia mengaku belum siap untuk sholat karena saat menjalankan sholat dia akan merasakan reaksi fisik yang kalo mengambil istilah yang dipakai olehnya adalah “ndredek, adem panas”. Kondisi ini sedikit banyak mengingatkan pada Kucur dan tentu saja semua kenangan yang berkaitan erat dengannya. Yang jelas daerah Dukuh ini endemik malaria.

Ada satu kejadian lucu saat sholat tarawih kemarin malam. Aku dan Weni datang telat ke masjid, sampainya di sana, ada seorang anak perempuan, namanya Putri, kelas 2 SD yang tiba-tiba datang dan agak keras menepuk pundakku dan mengajak salaman. Dia pun pindah shaf ke sampingku. Selama jeda sholat, dia sempat menepuk pipiku keras, meski kaget aku mencoba untuk tetap ‘manis’. Ternyata dia cuma mau bilang kalau gigi depannya yang ‘gigis’ itu mau copot. Tak cukup sampai disitu, saat bangun dari sujud dan duduk takhiyat aku tak sengaja menyenggol badannya dan dia membalas mendorong badanku ke samping. Ya, mungkin ini caranya untuk ingin lebih dekat dan menyapa, meski aneh dan sedikit membuatku merasa gak nyaman buatku, tapi setidaknya ini membuatku belajar untuk lebih sabar menghadapi anak-anak. Memang, masih perlu melihat dan mendengar banyak hal lagi agar bisa merasakan dan memahami kehidupan dengan lebih bijak.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Me and You. Start From Parking Lot


Aku percaya bahwa Allah punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dengan orang lain yang mungkin secara gak kita sadari nantinya akan menjadi orang yang punya peran dalam kehidupan kita. Ini salah satu contohnya.

Aku, sebagai seorang lulusan Aliyah favorit di kota Malang yang pada dasarnya masih belum 100% sadar dan yakin tentang apa yang sebenernya ingin aku capai dalam hidup dan apa yang harus aku lakukan untuk melanjutkan hidup. Akhirnya secara random aku mencoba banyak tes untuk masuk ke perguruan tinggi dengan jurusan yang sangat random pula. Tes terakhir yang aku ikuti adalah Ujian Tulis 2 untuk masuk ke UIN SuKa Yogyakarta. Aku yang waktu itu belum begitu familiar dengan kota Jogja harus mengandalkan sepupuku Alyn untuk nganter jemput selagi aku ngurus masuk kuliah (sendirian!!). Pada akhir ujian itu aku nunggu jemputan dengan duduk di parkiran kampus dengan tenang, sampai akhirnya ada seorang perempuan yang datang menghampiriku. Tanpa ragu dia ngajakin aku ngobrol dan ternyata obrolan kami nyambung, she is Ainabila Kintaninani. Lama setelah pertemuan itu aku ternyata ketemu lagi sama dia pas OPAK, dan ternyata kami masuk kelas yang sama. Oke, good news. Setidaknya aku gak seperti orang ilang kalo harus pergi kemana-mana. Dan seterusnya dia menjelma sebagai seorang sahabat sembari menggeret masuk nama-nama seperti Putri dan Qorri masuk ke lingkaran cahaya itu. 

Sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, sampai sekarang we very closely each other. Sudah bukan dekat, tapi lekat dengan semua hal yang menempel pada diri masing-masing yang sudah dikupas tuntas, sehingga mengeluarkan kalimat “ini kamu banget deh”. Sudah hampir 3 tahun ini diisi dengan cerita-cerita kejadian yang beragam, mulai seneng, sedih, tapi yang paling banyak harus kuakui adalah kekonyolan tingkah kami. Apa yang lebih memalukan dari kekurangan uang seratus rupiah untuk naik Trans Jogja sampai petugas trans harus mencarikan seratus rupiah dari dompetnya. Atau ini, nekad masuk Starbuck Coffee hanya dengan modal 20ribu di tangan yang hasilnya adalah secangkir black coffee yang sangat pahit sampai kami harus mampir ke kost Shobie untuk minta gula!! Sejujurnya aku suka godain dia. Misalnya aja kalo lagi naik motor, seperti terus nerobos palang pintu kereta api sudah mulai turun saat suara mbak-mbak itu meraung-raung di tengah padatnya jalan bimokurdo, yang menandakan kereta api mau lewat, atau ngebut di jalan. Tapi setelah selama 2 tahun terakhir ini aku selalu mendapat masalah dengan Rere (baca: jatuh, kecelakaan) aku jadi gak berani lagi ngebut ato nyerobot kalo emang gak penting-penting banget. Tak terhitung lagi "kencan" kami berdua, mulai dari nonton, jalan-jalan, kuliner, hunting foto dan masih banyak lagi.

Banyak cerita, banyak pengalaman, banyak pelajaran berharga saat kami mencoba untuk lebih mengenal satu sama lain dan berusaha untuk terus memahami perbedaan sebagai sesuatu yang indah. Resonansi kami cukup keren, saat hape dia rusak dan tak lama kemudian hapeku yang giliran rusak. Kehadirannya selalu bikin aku ngerasa dibutuhkan dan didengarkan. Dia juga selalu support aku selama aku berada di jalan yang benar. Seperti ini, dengan sengaja merancang rencana untuk mempermalukanku di Lombok Idjo setahun yang lalu. Dalang utama yang menyanggupi rencana nekad Mas Zak!! Hhmm, tapi harus aku akui aku seneng banget waktu itu, terharu banget karena saat itu aku emang lagi butuh benget ketemu Mas Zak. 

Sejujurnya saja aku bukan tipikal orang yang romantis atau apalah itu namanya, jadi kadang aku gak ngerti bagaimana caranya aku harus nunjukinnya. Well, the best thing that I’ve ever had is you’ve been a part of my life. Dengan semua rasa yang aku punya, terima kasih untuk semuanya sejak dulu, kini dan nanti. We’ll be together till end, aren’t we?? :’)

Nb: sebenernya aku pengen upload video di Lombok Idjo, cuma gk tau kenapa servernya error terus.. ntar deh aku coba upload lagi.. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Karena Aku di Jogja (Part .1 – blessed from Allah after the pain )


Jogja, salah satu diantara dua daerah istimewa di Indonesia selain Aceh. Alasan aku milih kuliah di Jogja? Eemm, actually I’ve no reason for that. Just trying to touch down in different place. Kayaknya tulisan ini bakalan panjang, jadi aku nulisnya beberapa kategori. Kategori pertama ini, eemmm apa yaa topiknyaa?? Eeemmm pokoknya tentang pengalaman pribadi aku aja dulu, yang aku rasain sendiri, banyakan sih pengalaman suram yang membawa pencerahan. Hhahaha ..

Karena aku di Jogja, yang paling jelas kerasa dan berbeda adalah merasakan GEMPA dan GUNUNG MELETUS. Jogja merupakan salah satu daerah yang komplit, punya gunung berapi, punya laut yang selatan banyak banget. Pertama kali ngerasain gempa sekitar semester satu, tapi waktu tepatnya aku lupa. Yang jelas kejadiannya malam hari, sekitar pukul 2  atau 3 dini hari. Aku yang belum pernah merasakan gempa sebelumnya jelas gak peka, apalagi waktu kejadian itu aku senang tidur terlelap. Memang sih, aku masih inget kalau waktu itu aku denger suara kaca buffet kamarku bergetar, tapi tidak membuatku bereaksi sampai akhirnya om dan tante menggedor pintu kamarku dan berkata kalau saat itu gempa. Begitu keluar rumah ternyata tetangga udah rame ngumpul di jalan, seingetku aku waktu itu sms ngabarin Mas Zak. Sampai gempa terakhir, kurang lebih sekitar bulan Februari atau Maret yang lalu, aku masih belum begitu peka sama yang namanya gempa. Padahal tiga tahun di Jogja, kayaknya ada kali 10an kejadian gempa. Gempa terakhir kurasakan saat aku selesai kuliah ModPri dan lagi jaga ruang baca sendirian di lantai 3. Lagi asyik duduk di depan komputer tiba-tiba rasanya goyang-goyang, masih sempet ngetweet dan mikir sampai akhirnya aku bener-bener sadar kalau sedang gempa, buru-buru keluar ruang baca tapi tak sempat turun tangga karena gak mungkin aku mau loncat dari lantai 3, jadi cuma bisa pasrah aja. Gempa terakhir ini yang paling kerasa dan cukup lama setelah gempa saat aku di togamas bareng Kintan.  Begitu turun ke lantai 1, aku pun langsung mengirim pesan-pesan ke Mas Zak kalau-kalau terjadi apa-apa sama aku, dan malah diomelin sama dia dan bilang aku terlalu banyak nonton film korea..  --“

Karena aku di Jogja, aku juga ngerasain yang namanya semburan lahar dingin dari gunung berapi yang meletus. Kejadian itu sekitar bulan Oktober – November 2010. Letusan besar pertama seingetku tanggal 25 Oktober, setelah beberapa hari agak mereda, ternyata tanggal  5 November terjadi lagi letusan yang lebih besar. Padaha sehari sebelumnya, alias 4 November abis nonton bareng Step Up 3 di XXI Udjo sama temen-temen. Waktu itu kondisi di Jogja sangat mencekam. Selama beberapa minggu, langit Jogja abu-abu semua, dimana-mana ada debu, nutupin jalan, nutupin tumbuhan, nutupin bangungan, nutupin semuanya, semua orang pake masker. Jadi, kalau naruh motor gitu, sebentar aja pasti udah banyak debu vulkanik yang nempel. Aku sempat jadi relawan dari Psikologi untuk proses rehabilitasi mental pasca bencana (meskipun pada awalnya, pas masi baru-baru meletus sempet kabur pulang ke rumah karena takut). Beberapa bulan kemudian aku sempet mengunjungi merapi pasca erupsi sama temen-temen dan jugaaaaa Mas Zak. 






Yang lebih penting, karena aku di Jogja aku jadi LDR sama Mas Zak. Eemm, awalnya berat, banget malah. Apalagi sempet ada beberapa kejadian yang cukup untuk shock therapy buat aku. Ya, gimana ya, punya pacar tenar dan baik itu lumayan melatih kesabaran dan kepercayaan. Mulai maraknya Social Media, kayak Facebook benar-benar menguji semuanya. Dari saat masih di MAN dulu, Mas Zak itu orangnya emang baik sama semuanya, jadi ya kalo sampe ada beberapa orang yang ngerasa gimana gitu ya wajar. Bikin salah paham sih iya, gak bisa dibilang berantem juga sih, paling cuma jadi diem-dieman dan saling nyalahin diri sendiri *catet..!! nyalahin diri sendiri-bukan nyalahin pasangan*. Tapi, lambat laun aku belajar banyak hal, sampai akhirnya kami jadi tau bagaimana agar komunikasi tetap setara dan berjalan baik. Selain itu, dukungan selalu mengalir dari banyak pihak, teman-teman di MAN, teman-teman kuliahku di Jogja, dan mungkin para asatidz, hhehee. Inilah yang patut aku syukuri, karena sampai sejauh dan selama ini, kami masih tetap bisa berjalan bersama sesuai komitmen awal yang dulu pernah kami buat, saling percaya, mengerti, memahami dan masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi pasangan *eciiiiee-ngomong apaan sih aku ini?? --?* . Ya, rasanya aku kayak minum obat, pahit banget, nggak enak banget, tapi menyembuhkan dan menyegarkan. Now, I feel more stronger than before, and of course I’ve a lot of knowledge how to manage this relationship with my dear, Mas Zak. Thanks a lot. :’)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Karena Kita Bukan Sebangsa Amoeba


Amoeba itu adalah salah satu makhluk hidup yang berkembang biak dengan cara membelah diri. That’s it, enough. Sepenggal pengetahuan alam yang masih tersisa di otakku. Akhir-akhir ini kalo di kampus sering banget denger pernyataan, “andai aku bisa membelah diri jadi banyak, dan sehari lebih dari 24 jam”.

Minggu-minggu terakhir semester memang waktunya untuk menguji mental, kesabaran, keuletan dan sebagainya. Design training, PLBA, problem sosial, modifikasi perilaku *khusus buat aku tambah SKI dan Gender*. Di saat beberapa mata kuliah, termasuk praktikum, sudah selesai beberapa mata kuliah di atas justru membuat wajah-wajah yang biasanya penuh dengan keceriaan berubah menjadi bête saat ketemu satu sama lain, karena bawaannya keinget tugas mulu. Yayayaya, bayangkan aja saat selesai kuliah inventory minggu lalu, tanpa dikomando setiap orang di kelas panik teriak-teriak manggil anggota kelompok dan saling berebutan anggota untuk cepat pindah ke kelompok mata kuliah yang lain. Aku sendiri mengalami itu, setelah kumpul modpri langsung balik kanan ngumpul design training kemudian agak serong ke kanan untuk ngomongin tugas PLBA dengan kelompok yang berbeda lagi. Tak cukup sampai disitu kawan, beberapa saat kemudian bingung nyari denah tempat yang akan aku dan teman-teman kunjungi buat tugas ProbSos. Belum lagi ditambah tugas individual pre-eliminary research yang cukup-cukup menguras tenaga, pikiran, dan mental karena harus bikin proposal skripsi *uhuuuuk*. Padahal deadline tugas tinggal semingguan lagi.

Kalau sudah situasi begini, yang banyak kejadian adalah jadi sering gak bisa kontrol emosi, lupa jaga kesehatan, bahkan mungkin bolos kelas buat ngerjain tugas mata kuliah yang lain. Sebenarnya balik lagi ke orangnya sih, asal rajin dan gak gampang nunda pekerjaan pasti juga gak bakalan kelimpungan ngerjain tugas yang seabreg ini, lha kalo orangnya suka prokrastinasi kaya aku gini?? yang sukanya nunda-nunda sampe mepet waktu dengan dalih ide bakal muncul disaat-saat kritis. Mari ucapkan selamat datang bagi acara radio diri hari untuk nemenin begadang. Nah lhoo. Aaarrrgghhh, andai aku bisa membelah diri jadi banyak.

NB.
*kebiasaan ini jangan sampai ditiru, kalau tidak berpengalaman bakal bahaya karena akan menimbulkan efek samping yang tidak terduga*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Incandescent (Part. 2 - End)


Setelah melalui serangkaian proses yang panjang dan melelahkan sampai nggak tidur semalaman, adu argument dan saling lempar candaan, serta setelah menghabiskan beberapa bungkus nasi goreng beberapa saat sebelum adzan subuh berkumandang, akhirnya karya ini selesai juga.


Sebuah cerita tentang seorang tuna rungu dan tuna wicara , selanjutnya panggil saja C, yang berjuang untuk melawan keterbatasannya, mencoba untuk menunjukkan eksistensinya bahwa dia berhak dan mampu untuk menempuh pendidikan formal meski harus bergabung dengan orang-orang yang normal. Mencoba menjadi dirinya sendiri dengan cara yang mungkin orang lain menganggapnya sebagai sebuah hal yang sangat tabu. 

Meski pada akhirnya kami harus jadi juara dua dan hanya membawa pulang tiket konser Rio Febrian dan Letto, tapi tetap saja ada yang tertinggal dan membekas. Ya, beberapa kali kami harus berinteraksi langsung dengan orang-orang berkebutuhan khusus di Pusat Studi Layanan DIfabel yang ada dikampus. Mereka dengan caranya sendiri mampu mengajariku banyak hal, salah satunya adalah betapa aku menjadi sangat takjub ketika C berkomunikasi dengan seorang tuna netra, bisa dibayangkan? C (selalu sepaket dengan menderita tuna wicara) membuat bahasa isyarat dari tangan yang ditempelkan di telapak tangan si tuna netra, dan kemudian sang tuna netra menebak abjad apa yang ada di telapak tangannya dengan meraba bentuk jari C. Saat mengambil gambar ini, rasanya badanku semakin menghangat, entah apa yang mengaliri tubuhku saat itu. Yang jelas, inilah bentuk keajaiban lain yang Dia ciptakan. 

Setelah lomba itu selesai, ada satu momen yang benar-benar membuatku geram. Ya, saat musim UTS datang, tiba-tba seorang teman memintaku untuk menggantikannya menemani C untuk ujian lisan. Pada awalnya aku enggan, bukan apa-apa aku hanya belum begitu lancar mengerti dan menggunakan bahasa isyarat. Dua pilihan yang sangat sulit karena keduanya punya norma masing-masing. Tapi aku tak punya pilihan lain, membantunya dengan apa adanya atau tidak sama sekali. Saat menunggu giliran dia masuk (ternyata no. urut presensi dia di akhir sodara”), dia menceritakan banyak hal, mulai dari keluarganya, kegiatan di beberapa perkumpulan yang dia ikuti dan salah satunya adalah perkumpulan yang mungkin akan menjadi sebuah kontroversi kalau aku sebut disini, so just make it a secret

Dengan kemampuan berbahasa isyaratku yang payah, aku pun masuk ke ruang kelasnya bersama kelima temannya yang juga ujian. Rasanya aku sangat gugup dan tegang, apalagi begitu mendengar suara sang dosen penguji yang sangat keras, tegas dan cenderung kaku, aku sempat mengajak seorang teman yang lebih menguasai materi yang diujikan kali ini (Sistem Ekonomi teman”, something that I really don’t understand about it). Ternyata sang dosen penguji hanya memperbolehkan satu pendamping dan sang temanku pun meyakinkanku kalau aku bisa disaat aku menganggap bahwa salah mengerti sedikit aku akan membawa petaka bagi C. Apapun itu aku hanya berniat untuk membantunya untuk ujian, hanya itu, dan aku sudah berusaha semampuku meski harus curi-curi strategi dalam menerjemahkan bahasa isyarat pada sang dosen penguji. Ujian pun selesai dan aku hanya bisa berdoa bahwa apa yang aku lakukan tadi itu benar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS